Kenduri

Menurut beberapa para ulama bahwa mengadakan ritual semisal itu tidaklah diperbolehkan. Sebab bertakziyah dengan cara berkumpul ramai-ramai, membaca al-Quran, berdzikir, berdoa dan mengadakan hidangan makanan di rumah keluarga Si mayat bukanlah ajaran Islam. Dalam hal ini imam al-Syafi’i menghukumi haram dan bid’ah, bahkan banyak dari ulama madzhab ini yang menyatakan hal sama, seperti; imam an-Nawawi, imam Ibnu Hajar al-Asqalani, imam Ibnu Katsir, imam ar-Ramli dan banyak lagi yang lainnya.

Di dalam kitab ‘I’anah ath-Thalibin juz. 2 hlm. 146 juga disebutkan pengharaman kenduri arwah, sbb:

وَمَا اعْتِيْدَ مِنْ جَعْلِ اَهْلَ الْمَيِّتِ طَعَامًا لِيَدْعُوْ النَّاسَ اِلَيْهِ بِدْعَةٌ مَكْرُوْهَةٌ كَاِجْتِمَاعِهِمْ لِذَلِكَ لِمَا صَحَّ عَنْ جَرِيْرِ قَالَ : عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِاللهِ قَالَ : كُنَّا نَعُدُّ اْلاِجْتِمَاعَ لاَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعُهُمْ الطَّعَامَ مِنَ النِّيَاحَةِ. (رواه الامام احمد وابن ماجه باسناد صحيح).

“Dan apa yang telah menjadi kebiasaan manusia, tentang menjemput orang dan menyediakan hidangan makanan, oleh keluarga Si mayat adalah bid’ah yang dibenci, termasuk dalam hal ini berkumpul beramai-ramai di rumah keluarga Si mayat, kerana terdapat hadis shahih dari Jarir, bahwa Jarir  ibn Abdullah berkata: Kami menganggap berkumpul beramai-ramai (berkenduri arwah) di rumah Si mayat dan menyiapkan makanan sebagai ratapan”.  (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad shahih)”.

Sementara menurut ulama yang lain ta’ziyah adalah suatu amal yang disunahkan karena bisa meringankan kesedihan mereka. Amal ini boleh dilakukan baik sebelum pemakaman atau sesudahnya, secara langsunng atau tidak langsung, atau dengan mengirim utusan selama kurang lebih tiga hari. Kecuali bagi yang tidak hadir pada hari itu boleh melakuakan sampai melebihi tiga hari.

Pendapat tersebut dikuatakan dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Nabi Saw. Beliau bersabda: ”seorang mukmin berta’ziyah pada saudaranya, maka Allah akan memberikan pakaian kemuliaan besok pada hari kiamat”. Imam al-Syaukani berkata semua periwayat hadis tersebut bisa dipercaya kecuali satu Qois Abu ‘Imarah yang lemah. (Nailul Authar.  juz 4 hal 108).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: